Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2016

DIVIDED WE FALL


Foto : tedikustandi.wordpress.com

Maybe granny used to say "you can't break a stick in a bundle".
Fact is, we are part of something bigger community in the world right now.
Everyone is watching us.

Population over 250mil people, 5 acknowledged religion, 17.000 islands, 250 distinct cultural groups, 700 mutually unintelligible languages.
Make us a good example of unity in diversity implementation, tolerance, respect to each others and living in harmony.

I remembered when i was a kid, Indonesia named as smile countries.
May not be named like that for no reason.

Don't give up on that.

Because i'm sure, this country never give up on us.
That is what being part of good citizen is all about.

There is nothing impossible for better tomorrow.

I believe...

#unityindiversity
#indonesia

Kamis, 25 April 2013

Esensi dalam mendesain sebuah Logo


Bagi saya, Logo merupakan salah satu bagian yang sangat esensial dalam membangun sebuah merek atau brand bagi perusahaan, perkumpulan, produk, atau hal-hal lain yang dianggap membutuhkan sesuatu hal yang singkat dan dapat dengan mudah diingat.

Dalam mendesain sebuah Logo, bukan hanya menyoal kreatifitas sang desainer dalam mendesain sebuah Logo yang kompleks dan detail, melainkan juga diperlukan business sense yang sangat cermat, terutama dalam bagaimana sebuah Logo dapat segera merefleksikan ekuitas merek atau brand equity yang diusungnya.

Logo dapat digambarkan sebagai visual ikon unik yang mengidentifikasikan, sesuatu yang bisa mengkomunikasikan dengan jelas, publikasi pihak tertentu kepada sasaran yang tertentu pula.

Pesan-pesan marketing dikemas semenarik mungkin untuk memudahkan konsumen dalam mengingat pesan tersebut. Dan pesan-pesan tersebut tidak semata-mata verbal melainkan juga harus cukup kuat untuk dapat diingat secara visual.

Di sinilah letak desain grafis bermain. Untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu yang diinginkan oleh pihak-pihak tertentu kepada sasaran yang tertentu pula dengan harapan sasaran tersebut mau memikirkan, merasakan dan melakukan perilaku tertentu yang diinginkan oleh pengirim pesan. Bisa jadi terdiri atas nama, istilah, tanda, simbol atau rancangan atau kombinasi dari hal-hal tersebut.

Dengan melihat Logo, kita dapat segera membayangkan layanan yang akan diberikan, seperti ketika anda melihat Logo “KFC”, bisakah anda dapat segera membayangkan rasa lezat ayam goreng dengan rasa bumbu yang khas,


atau ketika anda melihat Logo si kuda jingkrak “Ferarri” bisakah anda dapat segera membayangkan sensasi balap ketika duduk mengendarainya?

Melihat pertimbangan strategi pesan dan tujuan pengiriman pesan tersebut maka tak heran banyak mungkin kita lihat dalam kehidupan sehari-hari Logo yang didesain tidak menginspirasi, bahkan cenderung abstrak bahkan hanya mengedepankan sisi art desain. Sehingga pada akhirnya, Logo tersebut “meaningless” dan “nice to have”.

Sekedar sharing, dibawah ini beberapa logo yang pernah saya buat selama ini.




Sabtu, 02 Maret 2013

Mengenal Etos Kerja


Seperti apakah etos kerja itu?
Pertanyaan ini sepertinya mempunyai jawaban yang gampang untuk diucapkan namun sulit dipraktekan secara profesional.

Etos berasal dari bahasa latin – Ethikos – yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral. Sebuah karakter, cara hidup, kebiasaan, motivasi atau tujuan moral seseorang serta pandangan hidup mereka.

Dengan kata lain, etos adalah sebagai aspek evaluatif sebagai sikap mendasar terhadap diri dan dunia mereka yang direfleksikan dalam kehidupannya sehari-hari.

Sedangkan pengertian etos dalam dunia kerja, atau kita singkat, etos kerja, adalah sebuah konsep yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang dalam memberikan “yang terbaik” dari yang di miliki, apapun situasi dan kondisinya, secara baik dan benar di tempat pekerjaan melalui perilaku kerja mereka secara unik.

Etos kerja merupakan; (1) dasar motivasi yang terdapat dalam budaya suatu masyarakat, yang menjadi penggerak batin anggota masyarakat pendukung budaya untuk melakukan suatu kerja. (2) nilai-nilai tertinggi dalam gagasan budaya masyarakat terhadap kerja yang menjadi penggerak bathin masyarakat melakukan kerja. (3) pandangan hidup yang khas dari sesuatu masyarakat terhadap kerja yang dapat mendorong keinginan untuk melakukan pekerjaan.

Adanya etos kerja yang baik dan benar dalam sebuah perusahaan akan menjadi salah satu dampak keberhasilan perusahaan tersebut. Setiap karyawan akan menghasilkan cara kerja yang produktif sehingga menghasilkan nilai tambah. Produktifitas kerja berkaitan dengan hasil yang lebih besar ketimbang sumber daya yang ada. Jika banyak orang namun hasil yang dikeluarkan sedikit maka dapat dipastikan demikian disebut tidak produktif.

Jumat, 11 Januari 2013

Entrepreneurship Employee



Entrepreneur muncul sebagai salah satu kosa kata yang mulai populer di dalam Bahasa Inggris, sekitar tahun 1852, di saat para pemilik modal dan para pelaku ekonomi di Eropa sedang berjuang keras menemukan berbagai usaha baru, baik sistem produksi baru, pasar baru, maupun sumber daya baru untuk mengatasi kejenuhan berbagai usaha yang telah ada.

Definisi ini kemudian berkembang sebagaimana yang dipaparkan oleh para ahli sebagai berikut:

Peter Drucker, Ability to create the new and different.
Andrew J Dubrin, Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business.
Robbin & Coulter, Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa entrepreneurship employee adalah seorang karyawan (employee) yang memiliki mindset entrepreneur dimana karyawan tersebut dapat menciptakan peluang, kreatif dan inovatif dalam  menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin di hadapinya.

Segelintir karyawan mungkin mempunyai etos kerja seperti ini, namun sebagian besar karyawan lebih banyak senang berada pada zona nyaman (comfort zone), dimana karyawan “hanya” akan bertindak sesuai dengan fasilitas yang disediakan dan memilih melakukan sesuatu dengan resiko yang paling minimal.

Karyawan yang sudah mempunyai mindset entrepreneur akan menjadi aset yang berharga bagi perusahaan untuk menghadapi persaingan bisnis yang ketat dan lingkungan bisnis yang cepat berubah saat ini.

Lalu, bagaimana menemukan talenta entrepreneur dalam diri karyawan atau pada saat memilih calon karyawan? Memang tidak mudah, karena semangat entrepreneurship lahir dari dalam diri masing-masing individu, walau sebenarnya semangat kreatif atau inovatif bisa ditumbuhkan dengan dilatih, namun tetap bahwa harus ada kemauan dari dalam diri karyawan.

Apabila semangat entrepreneurship telah dapat lahir dan berkembang dalam diri karyawan, tetap harus didukung oleh lingkungan perusahaan yang kondusif. Bila karyawan harus kreatif dan inovatif, maka budaya perusahaan juga harus mendukung. Bisa dibayangkan ketika seorang karyawan ingin berkembang dengan ide-ide kreatifnya, sementara perusahaan tetap bertahan dengan aturan dan SOP yang justru membelengu, tentu tidak akan mencapai hasil yang diinginkan.

Budaya perusahaan harus sejalan dengan semangat entrepreneurship supaya tidak mengalami kegagalan saat semangat entrepreneur tersebut berkembang di lingkungan perusahaan.
Para pemimpin perusahaan harus lebih dulu dimunculkan spirit entrepreneurshipnya, setelah itu, spirit yang sama harus menyentuh semua bagian dari perusahaan tersebut.

Baik perusahaan besar atau perusahaan kecil spirit entrepreneurship bisa di muncul kapan saja, asal perusahaan tersebut membudayakan juga spirit entrepreneurship. Karyawan akan tumbuh dan berkembang seiring sejalan dengan perusahaan. Karena apabila semangat tersebut muncul hanya dari salah satu pihak saja, maka kerap kali akan muncul konflik antara karyawan dan manajemen perusahaan, dimana penilaian tersebut bisa saja seperti tidak kooperatif, lamban atau anti perusahaan.

Apabila konflik seperti ini muncul, maka tugas perusahaan untuk bisa mengaturnya, karena apabila perusahaan dapat melakukan manajemen konflik dengan baik, maka akan menghasilkan hasil yang positif bagi karyawan juga untuk perusahaan.

Perlu juga ditanamkan sikap kompetisi, bukan antar karyawan atau divisi lain, namun dengan perusahaan sejenis atau produk sejenis. Justru antar divisi harus bisa bersama-sama menghasilkan sesuatu yang baik supaya hasilnya adalah produk-produk dengan kualitas yang baik, dan tetap, berbiaya murah.

Minggu, 10 Januari 2010

E - Banking - Improving Customer Adoption of Online and Mobile Banking


Indonesia companies have been running fast to exploit the possibilities of the World Wide Web, as a result, any thought that Indonesia will remain several steps behind other countries, especially United States, may well be proven inaccurate.

The very idea of following in the footstep of other countries was probably inaccurate for a variety of reasons, as e-commerce in Indonesia is likely to follow a different course. For one thing, the technological and cultural infrastructures are much different. More over, Indonesia players have had the benefit from seeing what has succeeded and failed in United States. The later entry of Indonesia companies into e-commerce also gives them the advantages of applying technology that has advanced considerably over the past two years.

The results, banking institution see an alternative market in today electronic era. Banking institution increasingly realizing they do not have an optimal mix of delivery channels and aware that, if they want to be a largest payment settlement in Indonesia, they have to build a lot of delivery channel like branches, ATM, internet banking and mobile banking. From the alternative delivery channel, their customer can enjoy the transaction with more efficient, fast and secure.

Today, developing an online and mobile banking solution, allows a bank to please both types of consumers while removing all of the costs associated with the development, distribution and support of client software. A well-designed solution will automatically allow users of the predominant consumer financial software packages, to access statements, pay bills and initiate transactions. At the same time, the system permits access via the Internet for customers who don't need full financial planning but want a full range of transaction and account access features such as bill payment, fund transfers and statement review. In both cases, the burden of client software support and development has shifted to either the web browser developer or the financial planning software developer. The bank is free to focus on the critical areas in which it can add value for its customers: back-end system functionality, product design, marketing and customer support.


Customer needs to have opportunity to actively interact with online and mobile banking services. Internet banking online and mobile banking services should seek to fulfill the following benefits that we know are important to the customers:
  • Selection – A wide range of online and mobile banking services 
  • Accessibility – Customer can easily access, login and doing transaction through the good design and user-friendliness of internet banking online and mobile banking services. For online banking cases, using internet as user centric medium and customers expect internet solutions to respond instantaneously with real time data much like in an ATM environment. When it comes to the delivery of corporate banking services, a Web based system, for example, should enable a customer to track and monitor their banking activity and initiate payments any time of the day. Corporate customers will naturally expect integration of these channels to supplement Web services. On the corporate side, this is especially true for alert and notification related services.
  • Personalize services – Some customers rather to go to the bank directly to have the “personal touch” services. internet banking online and mobile banking will equip its systems with CRM technology to personalize banking services.
  • Security – A high level of Internet security plays an important role to ensure the quality of service delivery to the customers also have a strategic role in increasing customer confident and retention.
Product and Services Offering

Online Banking
Table : Online Banking Services

Mobile Banking
  • Product and Services Offering
  • Online Banking
  • Account balance
  • Fund transfer
  • Account statement
  • Bill payment
  • Saving deposit information
  • Exchange rate currency
  • Loan
  • News update
  • Products offering
  • Bill statement



Jumat, 29 Mei 2009

Develop your virtual community


Membangun dan mengembangkan sebuah komunitas virtual adalah usaha yang dapat dikatakan tidak terlampau sulit tetapi tidak terlalu mudah. Paling tidak ada empat langkah utama yang harus diperhatikan  agar pembentukan komunitas virtual dapat berjalan secara efektif, yaitu: Attract, Promote, Build, dan Capture.

Attract new members
Setelah situs internet tempat komunitas virtual berinteraksi selesai dibuat, langkah pertama adalah mencoba menarik anggota untuk mendaftarkan diri ke komunitas terkait. Cara yang paling ampuh biasanya adalah dengan menawarkan beragam content atau fasilitas yang menarik, misalnya: SMS gratis, download lagu-lagu MP3 gratis, konsultasi manajemen gratis, dan lain sebagainya. Berbagai fasilitas gratis ini akan mudah menarik anggota karena yang bersangkutan harus mengeluarkan sejumlah biaya untuk mendapatkannya. Cara-cara marketing konvensional maupun modern (internet) juga kerap digunakan untuk mencoba menarik atensi dari calon anggota komunitas agar berniat bergabung segera.

Promote participant
Setelah sejumlah anggota bergabung dalam komunitas virtual, tibalah saatnya untuk mencoba membuat mereka semua aktif berinteraksi satu dengan yang lainnya. Tidak jarang ditemui sebuah komunitas dimana hanya segelintir anggota saja yang berani untuk berinteraksi, sementara yang lainnya lebih memilih untuk menjadi pendengar yang baik. Di sinilah biasanya pengelola situs harus mengambil peranan agar mereka yang biasa diam tertarik untuk bergabung aktif di dalam komunitas. Cara-cara yang dapat diambil misalnya adalah mengundang pakar atau public figure ke dalam komunitas untuk berdiskusi, memberikan content atau bahan pembicaraan yang sedang trend dan menarik, dan lain sebagainya.

Build Loyalty to Group
Setelah interaksi intensif terjalin antara berbagai anggota komunitas. Tibalah saatnya membuat membuat mereka loyal terhadap komunitas (bukan terhadap situs internet dimana komunitas yang bersangkutan berkumpul). Kriteria loyal yang dimaksud disini adalah bahwa para anggota secara periodik dan kontinyu selalu datang ke komunitas untuk membicarakan hal-hal atau masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari. Dalam suasana ini, setiap anggota selalu menempatkan komunitas sebagai prioritas atau bagian penting dalam hidupnya. Di samping itu, yang bersangkutan juga mendahulukan komunitas terkait dengan komunitas lainnya yang ada di dunia maya. Bentuk loyalitas yang lain adalah dengan mempromosikan komunitas virtualnya kepada orang-orang lain sehingga banyak pihak baru yang tergoda dan tertarik untuk bergabung dengan komunitas (member to member).

Capture Value
Setelah periode pertumbuhan komunitas mencapai titik optimumnya (critical mass), barulah perusahaan pengelola situs situs internet tempat komunitas berinteraksi sebagai lahan sponsor (advertising/marketing) yang dapat dijual ke berbagai perusahaan, terutama yang memiliki produk atau jasa terkait erat dengan tipe komunitas. Cara lain adalah mulai menawarkan berbagai jenis transaksi (e-commerce) berkaitan dengan hal-hal yang kerap dibicarakan oleh komunitas.

Keempat tahapan pembangunan komunitas ini pada akhirnya membentuk sebuah siklus karena jika sebuah komunitas berkembang (karena anggota-anggotanya merasa mendapatkan manfaat yang besar), maka namanya akan lebih sering didengar orang, yang pada akhiranya akan secara otomatis menarik anggota-anggota baru.

Tabel : 4 langkah utama dalam pembentukan komunitas virtual

Rabu, 15 April 2009

Turn your costumer into brand ambassador


Customer Bonding terjadi setiap kali prospek pelanggan berinteraksi dengan sebuah produk, servis, perusahaan, atau sejumlah komponen dari program perusahaan, atau sejumlah komponen dari program pemasaran. Setiap kontak merupakan peluang untuk memahami pelanggan lebih jauh dan untuk memperkuat ikatan dengan mereka. Maka dari itu, pemasar harus memastikan setiap unsur dalam strategi marketingnya dengan upaya membangun dan memelihara ikatan dengan konsumen.

Richard Cross dan Janet Smith dalam Customer Bonding: Pasting to Customer Loyalty (NTC Publishing Group, 1995) mengatakan bahwa ikatan tersebut menjamin kita mendapatkan konsumen dan kemudian membuat mereka sebagai “pejuang” terhadap produk kita. Akan tetapi, customer bonding ini tidak bisa tercipta secara instan. Sehubungan dengan itu, ada 5 tahap “bonding” yang harus dilalui pelanggan, dimana setiap tahap lebih kuat dari tahap sebelumnya. Kelima tahap itu adalah: awareness, indentity, relationship, community dan advocacy.

Awareness Bonding merupakan langkah pertama. Belum ada ikatan dengan produk, tetapi produk sudah dikenal oleh konsumen. Tahap ini merupakan hubungan yang terlemah karena tidak interaktif dan sangat bergantung pada persepsi pelanggan. Perusahaan berusaha menangkap perhatian mereka (“share of mind”) lewat berbagai variasi iklan di media massa dengan metode image advertising, tanpa memahami dengan jelas siapa mereka.

Selanjutnya adalah Identity Bonding dimana sudah ada “share of heart”. Ini bisa dilakukan perusahaan melalui komunikasi pemasaran serta kegiatan PR yang menciptakan value dan menggugah emosi. Pelanggan mengidentifikasi produk tersebut sebagai pemenuhan atas kebutuhan personalnya, seperti status dan kepemilikan. Contoh yang paling dekat, bicaralah pada seorang pemilik mobil mewah. Umumnya, ia akan berceloteh panjang lebar tentang kehebatan mobilnya.

Sejauh ini, proses ikatan tersebut masih bersifat komunikasi dua arah. Masih bersifat monolog. Hanya perusahaan yang berbicara dengan kepada prospek dan pelanggan, tidak ada umpan balik. Lantaran informasi yang didapat minim, hubungannya pun lemah dan pelanggan bisa digoyang dengan mudah.

Tapi pada tahap berikutnya, Relationship Bonding, mulai terjadi dialog. Dengan menawarkan satu atau lebih intangible benefit (berupa informasi atau penghargaan) dan tangible rewards (diskon, extra product, kredit untuk pembelian berikutnya, dan lain-lain), serta dengan menggunakan database informasi tentang pelanggan (misalnya: minat, kebutuhan, dan gaya hidup mereka), perusahaan bisa menciptakan dialog yang berkelanjutan dan memulai suatu hubungan jangka panjang. Dalam proses yang bersifat “exchange of benefit” ini, database yang baik dan akurat memainkan peran yang penting. Sebab, program interaktif sperti loyalty rewards dan membership club amat membutuhkan data pelanggan.

Begitu tercipta ikatan antara pelanggan dan produk, tahap selanjutnya adalah Community Bonding, yaitu mendorong mereka untuk berbagi pengalaman dengan yang lain. Pelanggan bukan hanya punya ikatan batin dengan perusahaan atau produk, tapi juga dengan pelanggan lainnya (“sharing experience”).

Cross dan Smith mengatakan, sekali pelanggan mengidentifikasi dirinya sebagai orang yang antusias terhadap produk, maka hanya butuh beberapa langkah pendek untuk sampai ke tahap terakhir, Advocacy Bonding. Dalam tahap ini, pelanggan sudah menjadi “advocate” yang penuh pengabdian. Dengan senang hati mereka memperjuangkan produk tersebut atau menjadi salesman yang tidak dibayar perusahaan.

Tabel Costumer Bonding

Rabu, 25 Maret 2009

Building customer communities is the key

img source : www.humanconcepts.com


Sasaran utama dalam sebuah pemasaran bukan hanya sekedar menggaet pelanggan baru, namun yang paling penting adalah memelihara dan mempertahankan pelanggan lama yang telah eksis. Tujuannya adalah menjaga loyalitas dari commited buyer.

Upaya memberikan value dan satisfaction kepada pelanggan memang tidak mudah. Pelangan terkadang sangat kritis dan responsif terhadap hal-hal yang merugikan mereka. Sebab itu, pembentukan komunitas pun kadang-kadang digunakan perusahaan sebagai salah satu cara untuk lebih mengenalkan produk kepada pelanggan. Dengan membangun relationship tersebut, kesetiaan pelanggan terhadap produk pun semakin kuat.

Melalui penciptaan komunitas pelanggan, perusahaan tidak hanya unggul dalam hal produk semata, tetapi juga dalam hal layanan dan jasa. Pelanggan yang puas atas produk dan layanan yang diberikan biasanya akan menjadi pelanggan yang loyal. Mereka akan menjadi commited buyer, yaitu pembeli yang mereferensikan produknya kepada orang lain. Singkatnya, dengan adanya pelanggan seperti ini, perusahaan telah beriklan secara word of mouth.

Komunitas biasanya memiliki interest, karakter dan sifat yang sama. Komunitas ini sendiri dapat berupa komunitas yang nyata, komunitas yang bersifat maya melalui medium internet maupun gabungan antara keduanya.

Membangun komunitas marketing memang tidak mudah. Di samping produknya yang intangible, komunitas juga sulit untuk dikendalikan atau dikelola. Bersifat intangible karena komunitas hanya berbentuk pengalaman partisipasi dari para penghuninya. Oleh sebab itu, satu hal yang bisa dilakukan pemasar adalah menstimulus perilaku pelanggan agar mereka bersedia untuk melakukan apa yang diinginkan oleh pemasar.

Kepuasan dan loyalitas terhadap produk merupakan satu hal yang ingin dicapai. Menurut Schouten dan McAlexander (1995) yang kemudian disempurnakan oleh McAlexander, Schouten dan Koenig (2002) memaparkan, “ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh. Pertama, komunitas dapat meningkatkan loyalitas dan komitmen pelanggan. Dengan adanya komunitas, pelanggan tidak hanya mempunyai kesetiaan emosional dengan produk (liking), tapi juga sudah menjadi commited buyer yang mampu beriklan kemana-mana.

Berikutnya, komunitas juga dapat digunakan sebagai ajang untuk mengedukasi pelanggan dan merangsang inovasi produk dan layanan atas dasar informasi yang tersebut dalam komunitas sehingga akan memacu penyebarluasan produk secara lebih luas.

Secara konseptual, sebuah komunitas dapat menjadi tempat untuk membangun dan memperkuat loyalitas pelanggan sekaligus membentuk hubungan abadi dengan pelanggan. Dengan komunitas, perusahaan (pemasar) juga dapat mengerti dan mewujudkan kepeduliannya terhadap pelanggan lebih dari hubungan produsen-konsumen. Pemasar memiliki kesempatan untuk menciptakan hubungan yang dibangun atas dasar pengalaman, kepentingan, nilai dan lifestyle pelanggan. Pada lain hal, pemasar juga akan mendapatkan feedback dari pengalaman pelanggan yang dapat menjadi masukan bagi pemasar untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam hal produk dan layanan.

Selain itu, komunitas juga mampu membentuk sense of belonging atau rasa kepemilikan dalam benak pelanggan. Mereka akan menciptakan ikatan yang kuat antara pelanggan, merek dan produk. Pelanggan pun akan menyebarkan pengalaman mereka atas produk yang mereka gunakan kepada orang-orang di luar komunitas.