Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2016

DIVIDED WE FALL


Foto : tedikustandi.wordpress.com

Maybe granny used to say "you can't break a stick in a bundle".
Fact is, we are part of something bigger community in the world right now.
Everyone is watching us.

Population over 250mil people, 5 acknowledged religion, 17.000 islands, 250 distinct cultural groups, 700 mutually unintelligible languages.
Make us a good example of unity in diversity implementation, tolerance, respect to each others and living in harmony.

I remembered when i was a kid, Indonesia named as smile countries.
May not be named like that for no reason.

Don't give up on that.

Because i'm sure, this country never give up on us.
That is what being part of good citizen is all about.

There is nothing impossible for better tomorrow.

I believe...

#unityindiversity
#indonesia

Selasa, 16 April 2013

Indonesia Bangkit ! Kita Bisa !



Kepalkan tangan ke atas, teriakkan dengan lantang, kita bisa,
Biarkan gemanya bergerumuh, nun jauh tinggi mengarungi jagat angkasa,

Tunjukkan bangsa ini, bangsa hebat, terhormat, bermartabat tinggi,
Kepada para pemimpin, berhentilah bermain, rakyatmu sudah lelah tersakiti,

Bersama kita bangun kembali NKRI,
Sebagaimana pendahulu kita mengorbankan diri,

Bangun kembali harkat dan martabat yang hilang,
Mari kita songsong masa depan gemilang,

Jumat, 11 Januari 2013

Entrepreneurship Employee



Entrepreneur muncul sebagai salah satu kosa kata yang mulai populer di dalam Bahasa Inggris, sekitar tahun 1852, di saat para pemilik modal dan para pelaku ekonomi di Eropa sedang berjuang keras menemukan berbagai usaha baru, baik sistem produksi baru, pasar baru, maupun sumber daya baru untuk mengatasi kejenuhan berbagai usaha yang telah ada.

Definisi ini kemudian berkembang sebagaimana yang dipaparkan oleh para ahli sebagai berikut:

Peter Drucker, Ability to create the new and different.
Andrew J Dubrin, Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business.
Robbin & Coulter, Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa entrepreneurship employee adalah seorang karyawan (employee) yang memiliki mindset entrepreneur dimana karyawan tersebut dapat menciptakan peluang, kreatif dan inovatif dalam  menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin di hadapinya.

Segelintir karyawan mungkin mempunyai etos kerja seperti ini, namun sebagian besar karyawan lebih banyak senang berada pada zona nyaman (comfort zone), dimana karyawan “hanya” akan bertindak sesuai dengan fasilitas yang disediakan dan memilih melakukan sesuatu dengan resiko yang paling minimal.

Karyawan yang sudah mempunyai mindset entrepreneur akan menjadi aset yang berharga bagi perusahaan untuk menghadapi persaingan bisnis yang ketat dan lingkungan bisnis yang cepat berubah saat ini.

Lalu, bagaimana menemukan talenta entrepreneur dalam diri karyawan atau pada saat memilih calon karyawan? Memang tidak mudah, karena semangat entrepreneurship lahir dari dalam diri masing-masing individu, walau sebenarnya semangat kreatif atau inovatif bisa ditumbuhkan dengan dilatih, namun tetap bahwa harus ada kemauan dari dalam diri karyawan.

Apabila semangat entrepreneurship telah dapat lahir dan berkembang dalam diri karyawan, tetap harus didukung oleh lingkungan perusahaan yang kondusif. Bila karyawan harus kreatif dan inovatif, maka budaya perusahaan juga harus mendukung. Bisa dibayangkan ketika seorang karyawan ingin berkembang dengan ide-ide kreatifnya, sementara perusahaan tetap bertahan dengan aturan dan SOP yang justru membelengu, tentu tidak akan mencapai hasil yang diinginkan.

Budaya perusahaan harus sejalan dengan semangat entrepreneurship supaya tidak mengalami kegagalan saat semangat entrepreneur tersebut berkembang di lingkungan perusahaan.
Para pemimpin perusahaan harus lebih dulu dimunculkan spirit entrepreneurshipnya, setelah itu, spirit yang sama harus menyentuh semua bagian dari perusahaan tersebut.

Baik perusahaan besar atau perusahaan kecil spirit entrepreneurship bisa di muncul kapan saja, asal perusahaan tersebut membudayakan juga spirit entrepreneurship. Karyawan akan tumbuh dan berkembang seiring sejalan dengan perusahaan. Karena apabila semangat tersebut muncul hanya dari salah satu pihak saja, maka kerap kali akan muncul konflik antara karyawan dan manajemen perusahaan, dimana penilaian tersebut bisa saja seperti tidak kooperatif, lamban atau anti perusahaan.

Apabila konflik seperti ini muncul, maka tugas perusahaan untuk bisa mengaturnya, karena apabila perusahaan dapat melakukan manajemen konflik dengan baik, maka akan menghasilkan hasil yang positif bagi karyawan juga untuk perusahaan.

Perlu juga ditanamkan sikap kompetisi, bukan antar karyawan atau divisi lain, namun dengan perusahaan sejenis atau produk sejenis. Justru antar divisi harus bisa bersama-sama menghasilkan sesuatu yang baik supaya hasilnya adalah produk-produk dengan kualitas yang baik, dan tetap, berbiaya murah.

Jumat, 30 November 2012

Pantang menyerah meski sudah tua

Ibu penjual rempeyek
Tertegun mata ku ketika melihat seorang ibu tua penjual rempeyek, duduk tepat disamping ku di sebuah gerobak bubur ayam, hari itu hari minggu, ketika saya ingin membeli semangkok bubur ayam, karena lapar, habis gowes sepeda dengan teman-teman.

“Rempeyeknya berapaan bu?” kata saya membuka pembicaraan
“Rempeyeknya satu plastik 3 ribu, neng..” jawab si ibu tua dengan suaranya yang parau (red. biasanya beberapa daerah di Jakarta, pemakaian kata "neng", suka di pergunakan oleh orang tua sebagai sapaan pengganti kata anak, mas, atau seperti kata tole di Jawa).
Saya mengira melihat posisi badan agak terbungkuk dan juga dari suaranya sekitar usia 60 tahunan.

“oo.. saya ambil satu yah bu…” ujar saya , sambil mengambil satu bungkus rempeyek dari tentengan nya di tanah. Saya melihat tidak begitu banyak rempeyek. Penasaran, saya lantas bertanya kepada ibu itu…

“Biasanya berapa bungkus ibu bawa rempeyek, bu? “ kata saya
“Cuman bawa paling banyak 10 bungkus neng, karena ibu juga tidak bisa masak banyak-banyak..” jawab si ibu

Subhanallah, hanya buat 10 bungkus, dikalikan 3 ribu berarti si ibu “hanya” mengumpulkan sehari itu 30 ribu saja. Kalau dihitung lagi, setelah potong minyak tanah, kacang, tepung dll, mungkin bersihnya hanya 10 ribu rupiah saja.

Sambil makan bubur ayam, iseng-iseng saya ajak ngobrol si Ibu, yang kemudian bercerita kalau tinggal di Jakarta ini seorang diri, suaminya tinggal di kampung, menjadi petani. Hasil jualan rempeyek nya di kumpulkan sedikit demi sedikit untuk biaya hidup si Ibu itu di Jakarta dan dikirimkan kepada suaminya. Sedangkan anak-anak si ibu itu sudah menikah semua.
Selesai makan bubur, semua rempeyek yang ada, kami beli semua dan dibagikan kepada teman-teman lain yang ikutan gowes.




Ibu penjual makanan kecil di SPBU dekat terminal bis Bantul
Perjalanan mudik ke Surabaya, lebaran kali ini benar-benar sangat melelahkan, jalanan sangat padat diisi oleh banyak sekali pengendara motor.
Jalur pulang arah selatan yang biasanya juga agak lenggang, kali ini macet amat sangat..
Hari beranjak sore, dan kami masuk daerah kota Bantul, kebetulan saat itu masuk waktu maghrib, saya putuskan untuk istirahat sebentar di SPBU terdekat, sekalian sholat, isi bensin sekalian meregangkan kaki dan badan.

Ketika saya menuju musholla yang terletak di belakang SPBU, saya melewati seorang ibu penjual jajanan makanan, sekilas saya lihat ibu ini sudah berusia sekitar 70 tahun, namun kelihatan masih sehat berjualan saja. Yang dijual juga cukup banyak sekali macam ragamnya..
Saya nanti mampir deh, ujar saya dalam hati.. tak lama kemudian setelah habis sholat, saya segera menuju tempat dagangan ibu itu. Sambil jongkok, saya lihat di bakul dagangannya ada pisang rebus, kacang, gorengan, dan penganan kecil khas jawa lainnya.
Saya langsung ambil kacang dan iseng mengajak ngobrol si ibu tersebut.

Panjang lebar, ngalor ngidul, ngobrol sambil berusaha mengerti penggalan kata berbahasa jawa, saya jadi tahu kalau si ibu ini sudah jualan jajanan makanan ini selama lebih dari 30 tahun, biasanya mengantongi omset jualan kurang lebih 50 ribu sehari. Namun, dipotong ongkos becak pulang pergi 20 ribu, sehingga bersih 30 ribu, belum di potong bahan baku nya seperti pisang, kacang, minyak goreng dan lain lain. Tidak terbayang berapa penghasilan bersihnya dari berjualan jajanan ini. Selain itu, Ibu ini juga sudah tinggal sendiri dirumah, anak-anaknya juga sudah berkeluarga dan menjadi petani.

Setelah selesai ngobrol, saya menanyakan berapa semua yang kami makan, kebetulan selain saya, istri, adik, orang tua juga jadi jajan disitu, si Ibu kami kasih lebih, namun Masya Allah, si Ibu berusaha untuk tidak menerima pemberiaan tersebut dengan cuma-cuma, Si Ibu bahkan meminta kami untuk mengambil lagi penganan yang ada, namun kami tolak dengan halus seraya merayu supaya si Ibu menerima pemberiaan kami.
Akhirnya si Ibu mau juga menerima dengan cuma-cuma, dan juga menyempatkan untuk mendoakan berbagai kebaikan untuk kami sekeluarga.. Amiin.. Subhannallah



Moral of Story
Sekarang ini banyak sekali, anak muda yang sedikit-sedikit mengeluh, pekerjaan nya susah lah, ribet lah, capek lah, males lah, uang nya kecil lah dan sejuta alasan lainnya, sebagian lagi terlihat ada yang mengemis bahkan tidak sedikit yang datang ke dukun/orang pintar, untuk dapat secara instan mendapatkan hasil yang besar. namun ibu penjual rempeyek dan ibu penjual makanan di Bantul, mengajarkan kita dengan amat sangat dalam, apabila ada keinginan dan kesabaran, semua hambatan bisa diatasi, terlebih adalah bersyukur apa yang sudah didapat...tidak ada yang tidak bisa!

Rabu, 28 Juli 2010

tidak ada yang tidak bisa


Saya ingat pertama kali saya diperkenalkan dengan istilah ini oleh atasan dan juga mentor saya di sebuah perusahaan elektronik terkemuka asal Jepang, Pak Razaki. Dari beliau saya banyak sekali menimba ilmu kepemimpinan. Satu kalimat yang selalu membekas di hati saya hingga saat ini adalah "if you think you can, you can !". sesuatu yang sebenarnya tanpa disadari, sudah saya jalani dalam hidup ini.

Ingatan saya menerawang kembali kepada masa lalu, ketika saat itu, saya mencoba mencari sekedar uang jajan untuk bisa membeli baju, celana bermerek quicksilver, rusty, stussy, billabong, nike maupun untuk keperluan lainnya, yang tentu saja bukan yang orisinal yah, terbatas buatan "PaUl" alias Pasar Ular, Tanjung Priok, :) maklum saya saat itu masih duduk di bangku SMA kelas 3, keterbatasan uang yang diberikan oleh orang tua saat itu tidak membuat saya kehilangan ide, dengan cara mengamen di jalanan, di seputaran tempat tinggal saya atau dari bis ke bis dengan sahabat kecil saya - Bento - anak Madura yang sangat halus sekali melebihi orang Jawa paling halus yang saya kenal :)
Aktifitas ini berlanjut hingga di tahun pertama duduk di bangku kuliah, dimana kebutuhan saat itu sudah berubah, bukan lagi untuk membeli keperluan untuk diri sendiri melainkan untuk membayar fotokopi diktat, jurnal, untuk makan hingga untuk menghemat ongkos bis. Pagi mengamen sampai masuk kuliah, setelah itu sore membantu teman untuk berjualan topi atau kacamata hitam "cengdem" di Blok M. pada masa ini saya merasa masa yang paling suram dalam cerita asmara saya, tidak ada satupun yang mau jadi pacar saya, malu pacaran sama pengamen katanya.... *sedih... huhuhu...

Aktifitas ini ternyata diketahui oleh keluarga besar saya, mereka menawarkan daripada saya mengamen di jalan, yang penghasilannya tidak jelas, sebaiknya jaga toko foto kopi dan ATK, kebetulan akan dibuka dan belum ada operator yang akan melakukan pekerjaan foto kopi, laminating, jilid buku, kasir dan lain lain.

Berbekal semangat, tanpa pelatihan apa-apa. akhirnya toko foto kopi tersebut dibuka dan selama seminggu kedepan, walaupun toko tersebut di lengkapi oleh AC yang cukup dingin, tapi tidak mampu untuk menahan keringat saya yang bercucuran dengan derasnya karena stress, mulai dari salah jilid buku, dokumen rusak karena laminating kepanasan dan banyak lainnya, Tapi saya yakin saya pasti bisa.. alhamdulillah saya bisa menjalani pekerjaan tersebut satu tahun lamanya, hingga pada tahun ke 3 kuliah saya, mendapatkan kesempatan untuk menjadi Web Designer, referensi dari sahabat saya Beni Ismail di kampus Universitas Budi Luhur ( i owe you a lot buddy !!), cerita yang sama dengan ketika menjadi tukang foto kopi pada awalnya sepertinya berulang, pengetahuan saya "nol besar" untuk bisa mengerjakan pekerjaan tersebut. Beni menawarkan saya waktu 3 hari untuk belajar Adobe Photoshop dan PHP + Database dirumah nya, akhirnya saya menginap disana dan dikebutlah waktu tiga hari tersebut demi keinginan bisa bekerja di sebuah perusahaan, selesai masa training, Senin nya saya langsung interview. dan alhamdulillah diterima...

Enam bulan berselang, saya di tawarkan menjadi penyiar radio Prambors oleh bos saya waktu itu, Pak Jerry dan Pak John (terima kasih Pak atas kesempatan berharganya..), membawakan program "On Klik" yang berisikan informasi dan knowledge mengenai internet, (red. pada masa itu, pengetahuan akan internet masih sangat terbatas dan tidak semua orang tahu tidak seperti saat ini) disitu saya belajar bagaimana menjadi presenter dan produser.

Cerita terus berlanjut hingga saat ini, saya bisa menyelesaikan kuliah S-2 di Universitas Pancasila, suka dan duka, hidup seperti layaknya roda yang berputar, semua meyatu dalam hidup ini, yang pasti, kita sebagai manusia harus selalu bersyukur, baik terhadap sesama dan yang terpenting, selalu berpikir positif, pantang menyerah dan selalu ingin belajar, belajar dan belajar. itu yang akan memperkaya diri kita ini menjadi "Besar".

Jadi..    Tidak ada yang tidak bisa kan ?